Selasa, 15 Februari 2011

ilmu dan budaya

Ilmu dan budaya
BAB I
PENDAHULUAN
          Di era globalisasi saat ini semua aspek kehidupan manusia berkembang sangat cepat seiring berjalannya waktu. Mulai dari gaya hidup, kehidupan social, cara bersosialisasi, bahkan ilmu dan kebudayaan juga ikut berkembang pesat. Namun yang menjadi pokok permasalahan iyalah berkembangnya ilmu dan budaya karena berawal dari situlah segala aspek manusia ditentukan. Jika perkembangan ilmu dan budaya mengalami  progress maka akan baiklah segala aspek manusia namun jika perubahan itu mengalami regress maka segala aspek manusia akan jauh dari kata baik.
          Di era globalisasi saat ini ilmu dan budaya berperan penting sabagai pengaman manusia agar tidak menuju perubahan yang tidak baik. Hal ini bukan hanya untuk sekadar dipelajari namun perlu dimaknai, dipahami, dan dipraktikan dalam kehidupan sehari – hari  agar para manusia tidak salah jalan. Awalnya kita harus mengetahui apa itu ilmu dan apa itu buday dan apa keterkaitannya sehingga sangat begitu penting untuk dipelajari secara mendalam. Agar lebih mengatahui apa itu ilmu dan apa itu budaya ada baiknya kita melihat beberapa pengertian baik secara umum atau khusus atau dari beberapa tokoh ternama.
BAB II
ISI
>. Pengertian ilmu
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1988)
memiliki dua pengertian, yaitu :
1. Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.
2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya.
Menurut Randall dan Buchker (1942) mengemukakan beberapa ciri umum ilmu diantaranya :
1. Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.
2. Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidiki adalah manusia.
3. Ilmu bersifat obyektif, artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.

1. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis , pengetahuan yang darimana dapat diisimpulkan dalil – dalil dari kaidah – kaidah tertentu ( Nazir, 1988 )
2. konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasikan dan dapat disistemasikan ( shapere, 1974 )
3. pengertian ilmu dapat mencakup logika , adanya intrepetasi subjektif dan konsistensi dengan realitas social ( schulz, 1962 )
4. ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis tetapi juga suatu metodologi.

Dari empat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang suatu hal atau fenomena, baik itu menyangkut tentang alam atau social ( kehidupan masyarakat ) yang diperoleh manusia melalui proses berpikir.

>. Pengertian budaya
 Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

          Demikian adalah beberapa pengertian dari ilmu dan budaya. Adapun juga unsur – unsure yang mendasari ilmu dan budaya yaitu

>. Unsur – unsure ilmu
          Ada 4 unsur yang membentuk ilmu yang berdasrkan ilmu psikologi yaitu :
Apersepsi, pengamatan, fantasi dan konsep. Adapun penjelasan dari masing – masing unsur tersebut
Menurut Kuncaraningrat, pengetahuan ialah unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung di dalam otaknya. 
Pengetahuan adalah seluruh penggambaran yang unsur-unsurnya terdiri dari apersepsi, pengamatan, konsep serta fantasi terhadap alam.
Untuk memahami unsur-unsur yang membentuk pengetahuan tersebut, orang Barat menganalisanya dengan ilmu psikologi.
Ilmu psikologi yang bersumber dari Barat bertujuan untuk menganalisa kebiasaan-perilaku atau kepribadian manusia secara individu.
Tidak ada manusia yang sama di dunia, setiap orang berbeda sikapnya menghadapi lingkungannya dan itulah yang disebut sebagai pribadi; sedangkan ilmu antropologi-sosiologi berfungsi untuk menganalisa menguraikan sifat-sifat atau kebiasaan-kebiasaan sekelompok orang.
Pengisian kesadaran otak ini datang dari pancaindera yang menerima gelombang cahaya-warna, getaran akustik, bau, rasa, tekanan-mekanik, suhu, dsb. dari alam sekitarnya. 
Di otak terjadi proses fisik, fisiologi dan psikologi sehingga orang menjadi sadar terhadap keadaan lingkungannya dan hal ini disebut sebagai persepsi.
Contohnya: Ketika seseorang sedang berjalan dipinggir jalan raya, tiba-tiba matanya melihat bak sampah.
Bak sampah itu berisi macam barang bekas seperti kaleng, plastik, bangkai ayam, kucing yang mencari makan dsb.
Setiap orang memiliki pemahaman sendiri-sendiri terhadap bak sampah tersebut. 
Ada yang memahaminya sebagai tempat penularan penyakit. 
Ada yang merasa kasihan kepada kucing dan ada pula yang berpikir petugas kebersihan kota malas dan banyak pemahaman lainnya.
Persepsi ini berbeda dengan rekaman lensa kamera foto yang merekam semua unsur yang ada di depan kamera secara objektif.
Pada manusia sesuatu yang telah dilihatnya, kemudian mata tersebut dipejamkan maka yang tergambar dalam kesadaran orang itu tidak seluruh benda-benda yang telah dilihat tadi, tapi banyak hal-hal yang hilang di dalam kesadarannya.
Ada fokus atau bagian-bagian yang menarik dari persepsi tersebut. 
Orang lalu menghubungkannya dengan penggambaran sejenis yang pernah diterima pada masa lalu, sehingga muncul pemahaman baru samasekali.
Dengan demikian timbul banyak pengertian terhadap yang mula-mula hanya berupa persepsi saja. Keadaan semacam ini di dalam ilmu psikologi disebut sebagai apersepsi.
Apabila individu secara intensif memusatkan akalnya terhadap persepsi yang secara khusus sangat menarik perhatiannya maka kegiatan tersebut dalam psikologi dikatakan sebagai pengamatan.
Misalnya orang tersebut merasa kasihan kepada kucing, dan selanjutnya dia akan mengamati mengapa kucing tersebut berada di situ.
Ketika mengamati keadaan lingkungan, seseorang kadang-kadang melebih-lebihkan atau mengurangi sesuatunya sehingga hal tersebut tidak mungkin terealisasi di alam nyata karena tidak realis, dan aktifitas semacam ini disebut sebagai fantasi. 
Misalnya, bagaimana kalau tempat sampah tersebut langsung dihubungkan dengan pipa yang bertekanan tinggi dan dapat menghisap seluruh sampah di bak sehingga tempat tersebut tidak kotor.
Kemampuan orang untuk membuat konsep dan berfantasi akan mengembangkan daya cipta manusia untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Orang juga menggabungkan dan membanding-bandingkan suatu penggambaran yang sejenis secara mantap dengan metode-metode tertentu sehingga mendapatkan hal yang baru samasekali. 
Penggambaran yang baru ini bersifat abstrak karena belum pernah dialami bahkan mungkin juga belum pernah dilihat dan didatangi.
Misalnya membandingkan bangkai ayam di tempat sampah itu, dengan makanan ular di kebun binatang yang juga ayam mati.
Inilah yang disebut sebagai konsep. 
Kemudian timbul pemikirannya (konsep), mungkin bangkai ayam tadi dapat dikumpulkan dan dijual ke kebun binatang.
Dari uraian unsur-unsur yang membentuk pengetahuan manusia berdasarkan ilmu psikologi Barat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa semuanya berpusat dan bersumber dari kesadaran serta kegiatan otak yang menerima rangsangan dari pancaindera.
Tidak ada disebut-sebut peranan jiwa atau ruh.
Meskipun mengakui adanya psiche manusia, yang sifatnya abstrak tapi psiche ini tidak dapat disamakan dengan jiwa atau ruh di dalam pemahaman bangsa Timur. 
Menurut kepercayaan Timur, ruh atau jiwa adalah badan halus yang juga mengatur perasaan manusia dan membentuk tubuh manusia secara bersama-sama dengan badan kasar.
Otak hanya ada di badan kasar. Badan halus juga menerima hidayah, yang harus diekspresikan di badan kasar, untuk selanjutnya "rasa" ini dibawa naik ke arah atas yaitu ke otak.
Badan kasar serta badan halus yang berisi ruh-jiwa merupakan pasangan yang tidak terpisah selama manusia masih hidup.
Badan kasar serta badan halus ini saling isi mengisi, dan membentuk bit informasi tubuh manusia ibarat lambang 0 dan 1.
Hidayah yang ada di otak berupa kesadaran logika harus bekerjasama dengan hidayah "rasa" yang turun di dada. Bukan saling mengatur seperti yang dipahami oleh budaya Barat.
Hanya sedikit manusia diberi tahu tentang ruh ini.
Oleh sebab itu psiche atau ilmu psikologi tidak dapat diterjemahkan sebagai ilmu jiwa manusia.
Ilmu psikologi dapat dianalisa dengan bermacam-macam teori, diantaranya teori psikoanalisa dari Sigmund Freud. 
Freud berpendapat semua aktifitas psiche selalu dihubungkan dengan kesadaran otak manusia. 
Sedangkan letak ruh diisyaratkan oleh gerakan tangan yang menunjukkan ke "aku"an dengan cara menepuk atau meletakkan telapak tangan di dada sendiri.
Adat yang fungsinya lebih memfokuskan pada aturan bermasyarakat, juga dapat digunakan untuk memahami pandangan falsafah Minang terhadap ilmu pengetahuan atau akal manusia.
Hal ini karena adat itu sendiri merupakan hasil dari aktifitas merasa serta memeriksa yang selanjutnya bertemu di otak, sesuai dengan adagium rasa dibawa naik, periksa dibawa turun. 
Kita tidak boleh menolak ilmu psikologi Barat ini, tapi pakailah petuah:
 "Iya-kan pendapat orang, kerjakan keyakinan sendiri", untuk menyikapi ilmu psikologi ini.
>. Unsur – unsur budaya
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1.     Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
§                    alat-alat teknologi
§                    sistem ekonomi
§                    keluarga
§                    kekuasaan politik
2.    Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
§                    sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
§                    organisasi ekonomi
§                    alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
§                    organisasi kekuatan (politik)


>. Syarat – syarat ilmu
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu[4]. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1.     Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2.    Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.    Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.    Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.


BAB III
KETERKAITAN ILMU DAN BUDAYA
Setelah kita membaca pengertian dari ilmu dan budaya dan beberapa hal yang penting tentang apa itu ilmu dan apa itu budaya kita sudah bisa mengambil garis besar dari hal tersebut. Kedua hal tersebut sangatlah penting dalam kehidupan kita. Dalam hal menjaga aspek kehidupan manusia yang berkesinambungan.
tanpa kita sadari dalam perjalanan hidup kita antara ilmu dan budaya memiliki keterkaitan yang sangat kuat, tidak hanya sebagai penentu aspek kehidupan manusia namun juga sebagai sebuah satu kesatuan yang berkesinambungan. Mungkin bagi sebagian orang budaya merupakan hal yang tidak mungkin berubah walaupun semuanya berubah, namun di era globalisasi ini segala sesuatu mungkin saja berubah tidak terkecuali budaya.
Ketika sebuah budaya mengalami perubahan atau transisi manusialah yang memiliki andil besar mau mengarah kemana perubahan tersebut, mau diarahkan kearah yang baik kah atau kearah yang buruk. Semua keputusan terletak pada manusia namun tiap individu pasti mengaharapkan sebuar perubahan yang mengarah kea rah yang baik oleh karena itulah manusia perlu sebuah aspek kehidupan yang di sebut dengan ilmu, tanpa ilmu manusia tidak berbuat apa – apa apalagi menentukan arah perubahan sebuah budaya
Ketika budaya mengalami sebuah proses transisi disinilah peran ilmu sangat penting untuk manusia agar dapat menetukan arah perubahan. Ilmu sebagai dasar pola pikiran manusia mengendalikan pola pikir manusia agar berpkir secara dinamis, simple, dan benar dalam mnghadapi perubahan sebuah budaya. Budaya merupakan hal dasar dalam kehidupan manusia, kita ibaratkan kehidupan manusia ini sebagai sebuah rumah yang sedang di bangun, buday itu berupa pondasinya dan ilmu itu sebagai semennya, ketika pondasi di bangun namun tidak diperuat dengan semen akan dipastikan pondasi itu akan mudah hancur dan rumah itu tak akan jadi, sama seperti ilmu dan budaya, ketika budaya sedang transisi namun tidak ada ilmu untuk mengadapi transisi tersebut maka sudah dipastikan arah perubahan tersebut mengarah kea rah yang buruk
Ilmu dan budaya sangat berperan penting dalam aspek kehidupan manusia dan kedua hal tersebut saling berkaitan satu sama lain. Adapun gambaran keterkaitan antara ilmu dan budaya dalam kehidupan sehari – hari, dalam masyarakat yang tinggal di pedasaan dengan wilayah yang cocok untuk bercocok tanam budaya yang berkembang pada masyarkat tersebut adlah kebudayaan agraris. Karena budaya yang mendukung dan wilayah yang memadai untuk brcocok tanam makan ilmu yang berkembang dimasyarakat tersebut ialah ilmu pertanian dan ilmu bercocok tanam. Ilmu pertanian dan ilmu bercocok tanam ini memberikan pandangan dan pola pikir masyarakat terhadap kebudayaan seperti acara adat menyambut masa panen, ritual atas brsyukurnya hasil panen yang melimpah dan lain – lain

BAB IV
PENUTUP
          Ilmu dan budaya merupakan aspek terpenting dalam kehidupan mansia dan keduany saling brkaitan. Tidak hanya ilmu yang perlu dipelajari namu juga budaya juga harus dipelajari karena hal ini merupak aspek keseimbangan dalam kehidupan manusia.
          Tidak dapt dipungkiri jika ilmu dan budaya hanay sekedar dipelajari namun tidak dipahami, dihayati, dilestarikan dan dilakukan manusia dalam era globalisasi ini hanya menciptaakn bom waktu yang dapat meledak sewaktu – wakt dan dampaknya tidak hanya sebagian namun seluruh manusia akan merasakan dampaknya

Referensi :

Sabtu, 01 Januari 2011

studi kasus masalah kemiskinan

Studi Kasus Program Kemiskinan

Anda adalah ekonom yang disewa oleh sebuah pemerintah kabupaten yang cukup kaya di Provinsi Kalimantan Timur. Pemerintah daerah ingin membuat program peningkatan gizi anak-anak sekolah dasar (SD) melalui pemberian minuman bergizi. Asumsikan hanya ada tiga minuman yang bisa diberikan kepada anak-anak SD tersebut, yaitukacang ijo, susu atau jus buah. Asumsi kedua, kandungan gizi dan harga masing-masing makanan tersebut sama per-gelasnya.

Pemerintah daerah pusing bagaimana menentukan satu dari tiga jenis minuman tersebut yang memaksimalkan welfare anak-anak SD. Data yang dimiliki oleh Dinas Pendidikan Kabupaten hanya tahu preferensi anak-anak SD didaerahnya adalah anak-anak SD lebih suka minumkacang ijo daripada susu dan anak-anak SD lebih suka susu daripadajus buah.

Anda diminta menentukan hanya satu jenis minuman yang memaksimisasi welfare. Rekomendasi minuman apa yang sebaiknya diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten ke anak-anak SD?

Jika anda merasa perlu melakukan data tambahan, anda akan diberikan dana untuk melakukan riset lapangan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten.

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 4

G.Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan

Pengertian Masyarakat
Beberapa definisi mengenai masyarakat dari para sarjana, seperti misalnya :
  1. R.Linton : masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya dalam kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu
  2. MJ.Herkovits : masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu
  3. J.L.Gilian : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil
  4. S.R.Steinmetz : masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang meliputi pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan yang erat dan teratur.
  5. Hasan Sadily : masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lain.

Dalam arti luas masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Dalam arti sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan dan sebagainya.

Masyarakat harus mempunyai syarat-syarat berikut :
  1. Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang
  2. Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu
  3. Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju pada kepentingan dan tujuan bersama.

Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
  1. Masyarakat paksaan, misalnya Negara, masyarakat tawanan, dan lain-lain
  2. Masyarakat merdeka, yagn terbagi dalam :
    1. Masyarakat nature, yaitu masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan, suku, yang bertalian dengan hubungan darah atau keturunan
    2. Masyarakat kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, misalnya koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sebagainya

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
  2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu
  3. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
  4. Kemungkinan-kemungkinan  untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
  5. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
  6. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Perbedaan desa dan kota
  1. Jumlah dan kepadatan penduduk
  2. Lingkungan hidup
  3. Mata pencaharian
  4. Corak kehidupan sosial
  5. Stratifikasi sosial
  6. Mobilitas sosial
  7. Pola interaksi sosial
  8. Solidaritas sosial
  9. Kedudukan dalam hierarki administrasi nasional

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan sperti beras, sayur mayor, daging, ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota misalnya saja buruh bangunan dalam proyek-proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan. Mereka biasanya adalah pekerja-pekerja musiman.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yagn juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatn untuk memelihara kesehatan dan transportasi. Dalam kenyataannya hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal luas lahan pertanian dan tanah sulit bertambah, terutama didaerah yang seudah lama berkembang seperti pulau jawa. Peningkatan jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa di pedesaan terdapat banyak orang yangtidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mereka merupakan pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah penuh.
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang membentuk stuktur kota tersebut. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :
  1. Wisma : unsur ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsur wisma ini menghadapkan
    1. Dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang
    2. Memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan
  2. Karya : unsur ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
  3. Marga : unsur ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
  4. Suka : unsur ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
  5. Penyempurna : unsur  ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.

Kota secara internal pada hakekatnya merupakan suatu organisme, yakni kesatuan integral dari tiga komponen meliputi penduduk, kegiatan usaha dan wadah. Ketiganya saling terkait, pengaruh mempengaruhi, oleh karenanya suatu pengembangan yang tidak seimbang antra ketiganya, akan menimbulkan kondisi kota yang tidak positif, antara lain semakin menurunnya kualitas hidup masyarakat kota.
          Di pihak lain kota mempunya juga peranan/fungsi eksternal, yakni seberapa jauh fungsi dan peranan kota tersebut dalam kerangka wilayah atau daerah-daerah yang dilingkupi dan melingkupinya, baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan pengertian ini diharapkan bahwa suatu pembangunan kota tidak mengarah pada suatu organ tersendiri yang terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya saling pengaruh mempengaruhi.

Masyarakat Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa  menurut Sukardjo Kartohadi adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut Bintaro desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan cultural yang terdapat disuatu daerah dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.. Menurut paul H.Landis : desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa
  2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuan terhadap kebiasaan
  3. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuatsesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya. Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain :
  1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
  2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
  3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
  4. Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal  mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya

Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan –ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan :
  1. Konflik
  2. Kontraversi
  3. Kompetisi
  4. Kegiatan pada masyarakat pedesaan


H.Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan

Ilmu Pengetahuan

“ Ilmu pengetahuan” lazim digunakan  dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari dua kata, “ ilmu “ dan “ pengetahuan “, yang masing-masing punya identities sendiri-sendiri. Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Dan oleh Bacon & David Home pengetahuan diartikan sebagai pengalaman indera dan batin. Menurut Imanuel Kant pengehuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Untuk membuktikan pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori kebenaran pengetahuan :
1.       Pengetahuan dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (proposisi) yang terdahulu
2.     Pengetahuan dianggap benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan
3.     Pengetahuan dianggap benar apabila mempunyai konsekwensi praktis dalam diri yang mempunyai pengeahuan itu.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu ; ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Epistemologis hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup ujud yang menajdi objek penelaahannya. Atau dengan kata lain ontologism merupakan objek formal dari suatu pengetahuan. Komponen aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :
1.       Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
2.     Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3.     Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
4.     Merasa pasti bahwa setiap  pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuwan itu sendiri sebagai dasar untuk langkah selanjutnya.

Teknologi
          Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah dikatakan bahwa pengetahuan (body ofknowledge), dan teknologi sebagai suatu seni (state of arts ) yang mengandung pengetian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan ketrampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial, terutama teknoogi sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi itu adalah merode sistematis untuk mencapai tujuan insani (Eugene Stanley, 1970).
          Teknologi memperlihatkan fenomenanya alam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “the technological society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun artinya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas  metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi teknologi penurut Ellul adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang distandarisasi dan diperhingkan sebelumnya.
          Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
1.       Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2.     Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3.     Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis  menjadi kegiatan teknis
4.     Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5.     Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6.     Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7.     otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi yang berkembang dengan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya bidang teknik digambarkan sebagaia berikut :
1.       Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri. Dengan teknik, mampu mengkonsentrasikan capital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi
2.     Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3.     Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.
Alvin Tofler (1970) mengumpamakan teknologi itu sebagai mesin yang besar atau sebuah akselarator (alat pemercepat) yang dahsyat, dan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakarnya. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan kualtiatif, maka kiat meningkat pula proses akselerasi yang ditimbulkan oleh mesinpengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih banyak dan lebih baik lagi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.

Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan  apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1.       Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2.     Posisi  manusia dalam lingkungan sekitar
3.     Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat, dan
sistem nilai yang dimiliki. Dalam hal ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi pangan apakah benilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan lingkungan yang dialaminya.
          Kesemuanya dapat tersimpul dalam barang dan jasa dan tertuangkan dalam nilai uang sebgai patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minimal ( versi bank dunia, dikota 75 $ dan desa 50 $AS perjiwa setahun, 1973) ( berapa sekarang ? ).
          Berdasarkan ukuran ini maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.       Tidak memiliki faktor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. Dll
2.     Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha
3.     Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD
4.     Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5.     Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikatagorikan kedalam tiga unsur :
1.       Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang
2.     Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam
3.     Kemiskinan  buatan. Yang  relevan dalam hal ini adalah kemiskinan buatan, buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut kemiskinan structural. Itulah kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur  buatan manusia, baik struktur ekonomi, politik, sosial maupun cultural. Selaindisebabkan oleh hal – hal tersebut, juga dimanfaatkan oleh sikap “penenangan” atau “nrimo”, memandang kemiskinan sebagai nasib, malahan sebagai takdir Tuhan..